Selasa, 13 Januari 2009

Taman Nasional Danau Sentarum

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Kawasan ini ditetapkan untuk pertama kalinya sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Penunjukan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tangal 15 Juni 1981 dengan luas 80.000 ha sedangkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 757/Kpts-II/Um/10/1982 (Rencana Tata Guna Hutan) tanggal 12 Oktober 1982 dengan luas 75.000 ha, kemudian pada tahun yang sama (1982) komplek Danau Setarum diusulkan menjadi Suaka Margasatwa oleh Sub-Balai KSDA Kalimantan Barat dengan luas 80.000 ha.
Dalam perkembangan selanjutnya berdasarkan Surat keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 34/Kpts-II/1999 tanggal 4 Pebruari 1999, status kawasan ini berubah menjadi Taman Nasional Danau Sentarum dengan luas lebih kurang 132.000 ha.
· Letak Kawasan

Sebagai Suaka Margasatwa, secara geografis terletak antara 00°45’ - 01°02’ LU dan 111°57’ - 112°20’ BT dan secara administrasi masuk wilayah Kabupaten Dati II Kapuas Hulu dan termasuk dalam 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan Batang Lupar, Badau, Selimbau, Semitau dan Empanang. Kawasan yang merupakan sekumpulan danau-danau air tawar dan hutan tergenang ini memiliki keunikan tersediri dan letaknya di pedalaman hulu sungai yang berjarak sekitar 700 km dari muara Sungai Kapuas di Pontianak.
· Kondisi Fisio-Ekologi
Menurut Schmidt & Ferguson masuk dalam klasifikasi tipe iklim A dengan nilai Q = 9,75 % dan curah hujan 4.000 - 4.727 mm/tahun. Besarnya curah hujan ini sangat mempengaruhi keadaan ekosistem danau, dimana kondisi lapangan yang merupakan dataran rendah dengan cekungan-cekungan akan terendam air bila musim penghujan tiba dengan kedalam antara 6 - 14 m dan menjadi lapangan kering bila musim kemarau tiba.
Sekitar sembilan bulan dalam setahun, danau-danau di kawasan ini hampir selalu tergenang air dan pada bulan Juli – Agustus, genangan air pada danau-danau tersebut mulai menurun dan kemudian menjadi daratan yang kering dengan hanya sungai-sungai kecil yang mengalir di sekitar danau tersebut. Kondisi seperti ini merupakan siklus normal setiap tahunnya dan sangat mempengaruhi ekosistem danau secara keseluruhan.
Keadaan lingkungan Danau Sentarum ini sangat komplek tersebut, dengan sistem fluktuasi pasang surut yang sangat menonjol ini, selain mempengaruhi ekosistem danau secara keseluruhan, juga memainkan peranan penting sebagai daerah penyangga bagi sistem perairan Sungai Kapuas, seperti mencegah terjadinya bahaya banjir dan sebagai tempat menyimpan cadangan air sehingga saat musim kemarau keadaan tinggi permukaan air di Sungai Kapuas tetap terjaga.
Kawasan hutan rawa gambut yang terdapat di sekitar daerah aliran sungai dan danau-danau disini banyak mengandung asam-asaman dan tanin dengan tingkat kesadahan air yang berkisar antara pH 4 – 5,5. Kondisi air cenderung berwarna gelap (coklat merah kehitaman), juga menyebabkan penetrasi cahaya matahari yang masuk ke dalam air sangat rendah, sehingga tingkat kesuburan atau kandungan nutrisi perairan tersebut rendah sekali.
· Keadaan Flora
Selain keunikan habitatnya, tumbuhan yang terdapat di Danau Sentarum ini juga mempunyai keunikan tersendiri dimana hampir sebagian besar jenis tumbuhannya mempunyai penampakan yang berbeda dengan tumbuhan yang berada di luar Danau Sentarum. Misalnya saja jenis Dichilanthe borneensis salah satu tumbuhan khas (endemik) dan langka yang ditemukan oleh Beccari, dimana jenis ini merupakan Mising Link antara Rubiaceae dan Famili-familinya, serta satu jenis dari Marga Vatica yaitu Vatica menungau (Menungau) yang hanya dapat ditemukan di Danau sentarum, disamping juga Eugeissona ambigua (Ransa) yang merupakan tumbuhan langka dan diperkirakan menjelang kepunahan dan yang sangat mengagumkan ada satu jenis tumbuhan yang sama dengan yang ada di Amazon yaitu Crateva relegiosa (Pungguk). Menurut Gisen (1995), dari hasil pengumpulan specimen tumbuhan yang telah dilakukannya, banyak jenis yang tidak dapat diidentifikasi dengan menggunakan referensi Taxonomi terbaru dan kemungkinan merupakan ilmu baru.
Tipe vegetasi di Danau Sentarum sangat beragam, yaitu terdiri dari tipe-tipe sebagai berikut :
1. Hutan Rampak Gelagah (Hutan Rawa Kerdil) yaitu hutan rawa dengan pohon-pohon setinggi 5 – 8 meter dan tergenang air selama 8 – 11 bulan dalam setahun. Hutan ini ditandai dengan banyaknya Putat (Baringtonia acutangula) dan Mentangis (Ixora mentangis). Disamping juga terdapat kayu Tahun (Carallia bracteata), Kebesi (Memecylon edule), Kerminit (Timonius flavescens) , Melayak (Croton ensifolius), Galangan dan Landak (Gardenia tubifera).
2. Hutan Gelagah (Hutan Rawa Terhalang) yaitu hutan rawa musiman dengan pohon-pohon kerdil setinggi 10 – 15 meter. Hutan ini ditandai dengan pohon-pohon yang dominan seperti Kamsia, yang banyak ditumbuhi oleh epiphyt, pohon Menungau (Vatica menungau) dan Kenarin (Diospyros coriacea). Setiap tahun pohon-pohon ini terendam setinggi 3 – 4 meter selama 4 – 7 bulan, sehingga hanya terlihat tajuknya saja. Hutan Gelagah ini terkadang pula banyak ditumbuhi oleh Kawi (Shorea belangeran) yang dapat mencapai ketinggian lebih dari 30 meter.
3. Hutan Pepah (Hutan Rawa Tegakan) yaitu hutan rawa dengan tumbuhan yang agak tinggi, yaitu dapat mencapai 25 – 35 meter. Hutan rawa ini banyak ditumbuhi oleh pohon Kelansau, Emang dan Melaban. Pada saat banjir paling tinggi hutan ini tergenang antara 1 – 3 meter selama 2 – 4 bulan.
4. Hutan Tepian (Hutan Riparian) adalah hutan yang biasa dijumpai ditepian sungai besar seperti Sungai Tawang, Belitung dan Empanang. Hutan ini terkadang tergenang selama enam bulan dalam setahunnya. Keberadaan pohon Rengan Merah (Gluta renghas) dan Rengas Manuk (Gluta sp.) sering dapat menjadi petunjuk untuk tipe hutan ini.
5. Hutan Rawa Gambut terdapat disekeliling danau pada daerah yang agak tinggi. Hutan ini mungkin tergenang selama 1 – 4 bulan setahun dengan tinggi genangan kurang dari 1,5 meter. Pohon-pohon yang tumbuh pada tanah gambut yang cukup tebal ini umumnya lebih kecil seperti Bintangur (Callophylum spp.), Kapur (Dryobalanops abnormis), Jambu-jambuan (Eugenia spp.) dan Terindak (Shorea seminis).
6. Hutan Dataran Rendah Perbukitan, tipe hutan ini didominasi oleh jenis-jenis dari family Dipterocarpaceae perbukitan rendah seperti Tengkawang Rambai (Shorea smithiana), Resak (Vatica umbonata) dan (Vatica micratha), Kruing dan Tempurau (Dipterocarpus spp.).
7. Hutan Kerangas, tumbuhan yang tumbuh pada tipe hutan ini biasanya agak kerdil dengan tinggi sekitar 20 – 26 meter, dengan diameter batang yang kecil (kurus) menyerupai pohon pada tingkat tiang. Tanahnya berpasir dan sangat miskin unsur hara (tidak subur).
· Keadaan Fauna
Potensi fauna yang terdapat pada kawasan ini juga cukup banyak dimana dari hasil pengamatan yang telah dilakukan selama lebih kurang empat tahun, berhasil diidentifikasi sebanyak 80 jenis mammalia, 26 jenis reptil, 270 jenis burung dan 260 jenis ikan. Kemungkinan jenis tersebut masih dapat bertambah karena kelompok mammalia kecil, reptilia, amfibia dan invertebrata belum banyak diteliti.
Dari jenis-jenis yang telah berhasil didata ini, banyak diantaranya yang merupakan jenis endemik, langka atau menjelang kepunahan. Seperti misalnya Bekantan (Nasalis larvatus), Kepuh (Presbytis melalophos cruniger), Orang utan (Pongo pygmaeus). Beberapa jenis reptilia penting sperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya senyulong (Tomistoma sclagelli), dan bahkan buaya katak/rabin (Crocodylus raninus) yang di Asia telah dinyatakan punah sejak 150 tahun yang lalu diperkirakan masih ada disini.
Mengenai jumlah jenis ikannya juga lebih banyak dari semua jenis ikan air tawar diseluruh benua Eropa, jenisnya sangat beragam mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar yaitu ikan Tapah (Wallago leeri) dari yang tidak bernilai ekonomi sanpai pada ikan hias yang mempunyai nilai jutaan rupiah seperti ikan Siluk Merah (Scleropages formosus).
Burung di kawasan ini juga sangat beragam, lebih dari 12 % burung yang pernah ditemukan di Indonesia terdapat disini. Beberapa diantaranya merupakan burung yang berukuran besar dan termasuk langka seperti Bangau Hutan Rawa (Ciconia stromi), Bangau Tuntong (Leptoptilus javanicus), 8 jenis Rangkong (Bucerotidae).

Cagar Alam Kepulauan Karimata

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Gugusan Kepulauan Karimata yang terletak di Kabupaten KAYONG UTARA untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981 dengan luas 77.000 ha, keberadaan status dan luas Cagar Alam ini juga dikuatkan oleh Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 575/Kpts./Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 (Rencana Tata Guna Hutan Propinsi Kalimantan Barat). Kemudian pada tanggal 27 Desember 1985, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 381/Kpts – II/1985 Cagar Alam Kepulauan Karimata ditunjuk sebagai Cagar Alam Laut dengan luas 77.000 ha.
· Letak Kawasan
Kepulauan Karimata terletak lebih kurang 100 Km sebelah Barat kota Ketapang, secara administrasi pemerintahan masuk wilayah Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Dati II Ketapang dan masuk wilayah administrasi kehutanan pada KPH Ketapang. Sedangkan secara geografis kawasan ini berada pada 1°25¢ - 1°50¢ Lintang Selatan dan 108°40¢ - 109°10¢ Bujur Timur.
· Keadaan Fisik Kawasan
Gugusan kepulauan Karimata terdiri dari dua pulau besar yaitu pulau Karimata dan Pulau Serutu serta sembilan pulau kecil lainnya yang diantaranya adalah Pulau Pelapis Kelawar dan Pulau Pelapis Tengah. Kondisi topografi kawasan ini berupa dataran rendah sampai dengan tinggi yaitu dari 0 – 1030 m di atas permukaan laut.
· Keadaan Tumbuhan dan Margasatwa
Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan yaitu mulai dari tipe ekosistem terumbu karang, hutan pantai, hutan mangrove, sampai pada ekosistem perbukian tinggi, karena itu pula potensi flora pada wilayah ini terdiri dari jenis-jenis tanaman laut sampai tumbuhan tingkat tinggi yang tumbuh di bukit pulau Karimata.
Begitu pula untuk jenis faunanya tersusun dari fauna perairan laut sampai fauna perairan air tawar dan darat serta udara. Melihat dari letaknya yang terpisah dari Pulau Kalimantan Besar (Borneo), diperkirakan jenis fauna yang terdapat pada kawasan ini banyak yang tergolong endemik, diantarnya yang baru terdata seperti Duyung (Dugong-dugong), Tuntong (Batagur baska) dan Kura-kura Gading (Olitia borneensis).

Cagar Alam Muara Kendawangan

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Kawasan hutan Muara Kendawangan diusulkan menjadi Cagar Alam pada tanggal 15 Juni 1981 yaitu berdasarkan usulan Direktorat Jenderal Kehutanan Nomor 2240/DJ/I/1981 dengan luas 150.000 hektar dan selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1982 dikukuhkan menjadi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/Kpts/Um/10/1982 dengan luas 175.000 hektar. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri kehutanan Nomor 174/Kpts-II/1993 tanggal 4 Nopember 1993, dilakukan kembali penataan batas kawasan dengan luas 149.079 hektar.
· Letak Kawasan
Secara geografis Cagar Alam Muara Kendawangan terletak diantara 2° 20¢ - 3° 00¢ Lintang Selatan dan 110° 05¢ - 110° 35¢ Bujur Timur. Berdasarkan pembagian administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat.
Cagar Alam Muara Kendawangan berbatasan dengan bentangan alam yaitu :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Membuluh;
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Air Hitam;
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Cina Selatan;
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa.
· Keadaan Fisik Kawasan
1. Topografi
Keadaan topografi Cagar Alam Muara Kendawangan umumnya datar dan hanya dibagian Barat Lautnya yang berbukit serta bergelombang ringan dengan ketinggian antara 0 sampai dengan 191 meter di atas permukaan laut. Bukit-bukit yang terdapat pada bagian Barat Laut tersebut yaitu Gunung Tajam dengan ketinggian 191 m dpl, Bukit Batu Jurung dengan ketinggian 141 m dpl, serta Bukit Danau Udang, Bukit Baang, Bukit Mangkul, dan Bukit Embarang yang ketinggiannya di bawah 100 m dpl.
Pada kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan juga terdapat dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Simbar dan DAS Air Hitam Kecil, selain DAS tersebut juga terdapat sungai sungai kecil seperti Sungai Bengkuang, Sungai Matan Sepi dan Sungai Kerandang.
2. Geologi dan Tanah
Berdasarkan pengamatan Geographic Research and Development Centre jenis bebatuan yang terdapat pada kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan terdiri dari Kwartet dan Trias yang berasal dari bahan induk Ketapang Compleks.
Jenis tanah sebagian besar adalah Organosol glein humus dengan bahan induk berasal dari Alluvial, Litoral dan Terrace Deposite dengan fisiografi datar; sedangkan pada fisiografi intuksi jenis tanahnya terdiri dari Podsolik Merah Kuning (PMK) yang berasal dari bahan induk batuan beku.
3. I k l i m
Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Fergoson, iklim pada kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan termasuk dalam type A dengan curah hujan rata-rata 2740,2 mm/th.



· Keadaan Tumbuhan dan Margasatwa
1. Tumbuhan
Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan yaitu tipe ekosistem hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut dan hutan hujan dataran rendah serta hutan kerangas (Padang Kalap) dan Padang Rumput.
Jenis tumbuhan yang mendononasi masing-masing tipe ekosistem tersebut yaitu :
a. Pada hutan pantai didomnasi oleh Cemara Laut (Casuarina equistifolia) dan Ketapang (Terminalia catapa);
b. Pada hutan mangrove/hutan payau didominasi oleh Bakau-bakauan (Rhizophora spp), Api-apian (Avisenia spp) dan Bruegera spp.
c. Pada hutan rawa air tawar didominasi oleh jenis-jenis bentangur (Callophyllum spp), Pulai (Alstonia spp) dan Jelutung (Dyera costulata);
d. Pada hutan rawa gambut didominasi oleh Ramin (Gonytylus bancanus) dan Bentangur (Callohyllum spp);
e. Pada hutan dataran rendah didominasi oleh Pohon Gelam (Mellaleuca leucadendron) dan Kawi (Shorea belangeran) dan Medang (Litsea sp);
f. Pada hutan kerangas atau padang kalap didominasi oleh Bentangur (Callophyllum spp), Jambu-Jambuan (Eugenia spp dan Beckia sp) serta Karimunting (Melastoma spp);
g. Pada padang rumput didominasi oleh rumput Alang-alang (Imperata cilindrica) dan karimunting (Melastoma spp).
2. Margasatwa
Pada ekosistem pantai menjadi tempat bertelurnya Penyu Sisik (Eretmmochelys imbricata), Penyu Hijau (Celonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochellys coreaceae), Tuntong (Batagur baska) dan Kura-kura Gading (Orlitia bornensis). Pada tipe hutan rawa air tawar dan rawa gambut serta hutan dataran rendah menjadi habitat Bekantan (Nasalis larvatus) dan Orang Utan (Pongo pygmaeus) serta beberapa jenis Primata lainnya seperti Kera Ekor-panjang (Macaca pascicularis) dan Lempiau (Hylobates agilis).
Pada Padang Rumput dan Padang Kalap sering menjadi tempat berbagai jenis satwa pemakan rumput (herbivora) terutama jenis Rusa Sambar (Cervus unicolor) dan Pelanduk Kerangas (Tragulus javanicus).
Selain jenis mammalia dan reptilia, pada kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan juga banyak terdapat jenis burung air dan burung pantai seperti Pecuk Ular (Anthinga melanogaster), Cikalang Besar (Fregata minor), Cangak Merah (Ardea purpurea), Kuntul Cina (Egreta eulophotes), Cangak Laut (Ardea sumatrana), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Kuntul Karang (Egreta sarca), Bangau Hutan Rawa (Ciconia stormi), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) dan sebagainya.

Cagar Alam Lo Fat Fun Fie

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Ditetapkan berdasarkan Zelber Bels fan Sambas dd. 23, maret 1936 dengan luas 7,8 ha dan berdasarkan Besluit 15 April 1937, No. 15 (Residetie Westerafdeeling Van Borneo, Afdeeling en Onderafdelling Singkawang) dengan luas 7,79 ha. Kemudian kawasan ini dikukuhkan sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertanian No. 757/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 dengan luas 7,8 ha.
· Letak Kawasan
Secara geografis kawasan ini terletak antara 0°45’- 0°46’ LU dan 109°07’-109°08’ BT, sedangkan secara administrasi terletak di desa Monterado Kecamatan Samalantan Kabupaten Dati II Sambas.
Pengelolaan kawasan ini oleh Sub balai KSDA Kalimantan Barat dan belum ada sarana maupun dana khusus keproyekan.
· Kondisi Fisio-Ekologi
Keadaan topografi kawasan ini merupakan dataran rendah dan daerah berawa-rawa dengan jenis tanah podsolik. Menurut Schmidt & Ferguson masuk klasifikasi tipe iklim A deangan curah hujan rerata 263 mm/th. Ekosistem kawasan merupakan hutan hujan dataran rendah.
· Keadaan Flora dan Fauna
Flora yang merupakan ciri khas Cagar Alam ini adalah Anggrek Batik (Vanda hokeriana) sebagai ciri khas kawasan ini dan karena kecilnya luasan kawasan ini maka untuk jenis flora dan fauna sangat sedikit sekali, ditambah lagi untuk saat ini telah banyak pemukiman, perladangan dan perkebunan disekitar kawasan ini, sedikit banyak akan berpengaruh pada potensi flora dan faunanya. Sebagai contoh misalnya untuk jenis fauna yang dulu diinformasikan bahwa pada kawasan ini terdapat satwa seperti Biawak (Varanus sp), Kancil/Pelanduk (Tragulus javanicus), Trenggiling (Manis javanica) dan Burung Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), namun sekarang kehadiran satwa tersebut dapat dikatakan hampir tidak ada lagi.

Cagar Alam Gunung Nyiut

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Ditetapkan untuk pertama kalinya sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Direkur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981 dengan luas 140.000 ha, kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 059/Kpts-II/1988 tanggal 29 Februari 1988 dengan luas 124.500 ha.
· Letak Kawasan

Secara administrasi pemerintahan masuk wilayah Kabupaten Dati II Sanggau dan secara administrasi kehutanan masuk wilayah KPH Sambas, KPH Sanggau dan KPH Pontianak.
Pengelolaan cagar alam ini dilaksanakan oleh Sub Balai KSDA Kalimantan Barat dengan seorang jagawana dan belum ada dana keproyekkan khusus untuk kawasan ini.
· Kondisi Fisio-Ekologi
Kondisi topografi Cagar Alam Gunung Nyiut berbentuk perbukitan dengan kelerengan sedang sampai curam. Puncak bukit yang tertinggi pada kawasan ini adalah Gunung Nyiut dengan ketinggian 1701 m dpl. dengan tipe iklim yang termasuk klasifikasi tipe iklim A menurut Schmidt & Ferguson. Kondisi ekosistem yang terdapat pada kawasan ini adalah hutan hujan pegunungan bawah sampai sedang.
· Keadaan Flora dan Fauna
Potensi flora yang menonjol adalah anggrek dan beberapa jenis tumbuhan langka lain seperti Bunga Patma (Rafflesia tuan-mudae). Pada hutan hujan pegunungan rendah didominasi oleh jenis Dipterocarpaceae dan Euphorbiaceae sedangkan pada hutan hujan pegunungan sedang didominasi oleh Dipterocarpaceae perbukitan.
Untuk jenis fauna walau belum pernah diadakan inventarisasi, berdasarkan informasi masyarakat setempat, kawasan ini juga cukup kaya akan jenis fauna, diantaranya ada beberapa jenis fauna yang dilindungi seperti Beruang Madu (Herlactos malayanus), Kelempiau (Hylobates muelleri muelleri), Orang utan (Pongo pygmaeus), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hysterix branchyura), Napu (Tragulus napu), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Burung Ruwai (Argusianus argus), Enggang Badak (Boceros rhinoceros) dan mungkin banyak lagi yang belum terdata. Daya tarik lain dari kawasan ini adalah air terjun dan panorama yang indah.

Cagar Alam Raya Pasi.

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Penunjukan kawasan hutan Gunung Raya pasi sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 376/Kpts./Um-5/1978 tanggal 20 Mei 1978 dengan luas 3.742 ha, kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 111/Kpts-II/1990 tanggal 14 Maret 1990 kawasan hutan Gunung Raya Pasi ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan luas 3.700 ha.
· Letak Kawasan
Cagar Alam Raya Pasi secara geografis terletak antara 108°59’00" - 109°07’40" Bujur Timur dan 0°48’30" - 0°52’20" Lintag Utara, secara administrasi pemerintahan masuk di Kecamatan Tujuh Belas dan Samalantan Kabupaten Dati II Sambas.
Pengelolaannya dilakukan Sub Balai KSDA Kalimantan Barat yang sampai saat ini belum ada dana yang khusus untuk mengelola wilayah ini.
· Kondisi Fisio-Ekologi
Kawasan ini mempunyai topografi bergelombang mulai dari perbukitan sampai pegunungan dengan ketinggian 150 – 920 m dpl. Jenis tanah podsolik merah kuning yang berasal dari bahan induk batuan endapan. Menurut Schmidt & Ferguson kawasan ini masuk klasifikasi tipe iklim A dengan nilai Q = 5,5 % dengan curah hujan rerata 263 mm/th.
· Keadaan Flora dan Fauna
Flora yang specifik di kawasan ini antara lain berbagai jenis anggrek (Phalaenopsis spp., Coelogyne cominngiilind, Aerides adoratum lour, Debrodium crummenatum, Phapiopedillum pfitt), Bunga Patma (Rafflesia tuan-mudae), Bunga Law Belacan (Rhizanthes zippelii) dan berbagai jenis flora menarik lain.
Fauna yang sering dijumpai adalah Beruang Madu (Herlactos malayanus), Landak (Hysterix branchyura), Kukang (Nycticebos coucang), Binturung (Arctictis binturong), Trenggiling (Manis javanica), burung Enggang (Anracoceros sumatranus), dll. Suatu hal yang sangat menarik dari kawasan ini adalah panoramanya yang indah dan air terjun serta goa.

Cagar Alam Mandor

· Sejarah Penunjukan Kawasan
Cagar Alam Mandor seluas 3.080 hektar ditunjuk berdasarkan surat keputusan Het Zelfbestuur Van Het Landschap Pontianak, Nomor 8 tanggal 16 Maret 1936, yang disahkan oleh De Residen der Westafdeeling Van Borneo, tanggal 30 Maret 1936. Berdasarkan Ordonansi Perlindungan 1941 (Natuurbeschermings ordonantie 1941), Cagar Alam Mandor ini ditunjuk atas alasan botani, yaitu melindungi jenis tumbuhan asli Kalimantan Barat antara lain jenis Anggrek Alam. Selanjutnya Cagar Alam ini ditata batas secara definitif berdasarkan Berita Acara Tata Batas, Tanggal 4 Pebruari 1978, disahkan oleh Menteri Pertanian Ub. Direktur Jeneral Kehutanan, Tanggal 15 Januari 1980. Panjang batas seluruhnya 29 kilometer, yang terdiri dari 23,7 Kilometer batas buatan, dan 5,3 kilometer batas alam.
· Letak Kawasan
Cagar Alam Mandor secara geografis terletak antara 00°15’ - 00°20’ LU dan 109°18’ - 109°23’ BT dan secara administrasi masuk Kecamatan Mandor Kabupaten Dati II Pontianak dan KPH Pontianak.
Pengelolaan kawasan ini masuk dalam wilayah kelola Sub Balai KSDA Kalimantan Barat yang sampai saat ini belum dikelola dengan dana keproyekkan.
· Kondisi Fisio-Ekologi

Keadaan topografi di Cagar Alam Mandor umumnya datar dan berupa dataran rendah dan perbukitan dengan jenis tanah podsolik. Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan ini adalah hutan rawa gambut, hutan hujan dataran rendah dan hutan kerangas.
· Keadaan Flora dan Fauna
Potensi flora yang ada adalah vegetasi yang disusun oleh hutan rawa gambut, hutan kerangas, dan hutan hujan dataran rendah tersebut, yang dominasi oleh beberapa jenis pohon seperti : Meranti (Shorea spp), Rengas (Gluta renghas), Jelutung (Dyera costulata) dan Tengkawang (Shorea stenoptera). Selain jenis yang mendominasi tersebut dalam kawasan ini juga banyak terdapat jenis komersil lainnya seperti Merbung/Mabang (Shorea pachyphylla), Agatis (Agathis bornensis), Kebaca (Melanorrhoa walicchii), Keladan (Dryobalanops becarii), Ramin (Gonystylus bancanus) dan beberapa jenis tumbuhan lain. Selain jenis pohon pada kawasan ini juga terdapat 15 jenis anggrek dan 8 jenis Nephentes yang antara lain yaitu : Angrek Hitam (Cologyne pandurata), Angrek Kuping Gajah (Bulbophylum beccarii), Angrek Tebu (Gramotophyllum grama), Angrek Lilin Kecil (Cleisostom subulatum) Eria sp. dan sebagainya.
Untuk jenis fauna, berdasarkan hasil orientasi singkat diketahui bahwa kawasan ini juga banyak terdapat jenis-jenis yang dilindungi, seperti untuk jenis mammalianya adalah Beruang Madu (Herlactos malayanus), Kelempiau (Hylobates agilis), Kancil (Tragulus Napu dan Tragulus javanicus), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Binturong (Arctictis binturong), dan beberapa jenis musang (Viverriae) serta Landak (Hysterix branchyura); untuk jenis burung seperti Burung Enggang (Buceros rhinoceros), Burung Ruai (Argusianus argus), Elang Bondol (Heliastur indus), Alap-alap Capung (Mycrohierax fringillarius) dan lain sebagainya.